Thursday, October 24, 2019

My (Latepost) Preggo Story Part 5 : The Labor Story



Hi ! :)

Sambil menghela nafas, sambil nulis postingan ini akhirnya saya dengan bangga ke diri sendiri bisa juga nulis postingan ini. Iya bangga, setelah setahun kebelakang rasanya campur aduk kalau ditanya soal melahirkan. Jadi kata-kata yang sering berseliweran di sosial media sola melahirkan itu benar adanya. Memang segitu bisa bapernya seorang ibu yang ditanya melahirkannya apa dan kenapa.

Apalagi saya sendiri yang akhirnya, melahirkan dengan cara SC (Sectio Caesarea), seperti saya.

Sama seperti buibu lainnya yang mengalami, saya pun ambyar dan luruh nggak bersisa saat itu :'(.

Alhamdulilah, kondisi sekarang saya bisa senyum tanpa beban, ditanya sc ya sudah biasa-biasa aja.Ya sambil ketawa-ketawa pun bisa, ahahaha. Insha allah saya sudah ikhlas, karena sudah waras lagi. Sudah bisa menerima kalau udah takdir ya mau bagaimana lagi . Tapi kalau setahun yang lalu, jangan harap bisa begini, mau merasa diri ini baik-baik 100% pun nggak bisa, hanya maksimal 40%.

Mulai cerita yaa, teman-teman. Tahun lalu saat hamil pertama, kehamilan saya umurnya 41 week jalan ke 42. Umur kehamilan saya terhitung panjang ya, kalau istilah di orang sunda 10 bulan. Kehamilan saya, alhamdulilah kondisinya baik nggak ada kendala medis yang mengkhawatirkan dari trimester awal sampai akhir. Sebelumnya saya juga cerita kehamilan trimester sebelumnya di link bawah ini, hehe (tetep promo blog sendiri).

Baca juga : Preggo Story

Normalnya, kehamilan itu usianya dari 39-42 week, jadi seharusnya kalau di HPL, saya melahirkan tanggal 29 Juni 2018. Selama menuju HPL itu, posisi bayi dalam rahim sudah bagus, bayi sudah turun ke kebawah, dan posisinya juga sudah pas sih. Kata obgyn saya, dr. Benny Hasan, SPOG (K), tinggal menunggu si bayinya semakin turun lebih bawah ke jalan lahir.

Yawes lah saya bisa santuy (santai) aja, karena dokter obgyn saya pun saat itu bisa bilang masih bisa lahiran normal. Oiya, dr. Benny ini memang langganan keluarga saya dan sangat pro lahiran normal banget, bahkan kakak sepupu saya pun anak keduanya sukses VBAC (VBAC = Vaginal Birth After Caesarian). Jadi saya sendiri masih bisa selow menunggu baby y lahir saat itu.

Tapi makin deg-deg an juga akhirnya, karena udah mulai ambil jatah cuti tapi kok belum ada tanda-tanda kontraksi atau minimal mules pun nggak ada. Supaya nggak cemas dan nggak kepikiran terus, saya inget banget suami sampai mau anter buat nonton The Incredibles 2, dan nangis barengan pas di film pendeknya pixar, Bao. Pulang nonton pun saya masih bisa jajan bakso malang, dan masih boncengan naik motor sama suami :).

Tanggal 4 Juli 2018, saya kontrol lagi ke dr. Benny. Hasilnya tetep belum ada kontraksi dan juga mules. Dokternya bilang, kalau sampai minggu ini tetep begini terus, mau nggak mau induksi dulu ya atau nggak SC, soalnya usia janinnya sudah terlalu lama, takut ada apa-apa. Pulang dari dokter, saya lemes,  dan mulai putus asa sebenernya kok nggak ada tanda-tanda lahiran. Sempet terbesit memang kalaupun harus sc pun yaudahlah ya, yang penting bayi nggak kenapa-kenapa deh.

Esoknya, H-2 sebelum lahiran tiba-tiba perut saya mules, dan pas cek ke kamar mandi ternyata saya ada flek kaya darah gitu. Nggak lama sayapun cek ke rumah sakit bareng mama dan sepupu, dan kata dokter kandungannya saya pun sudah bukaan satu dan kontraksinya sudah mulai kencang. Kontrol ke rs jam 1, dan jam 6 kalau mules bertambah, saya disuruh ke rs lagi.

Selama jam-jam menunggu, saya pun mulai merasa mules udah nambah dan perut makin kenceng. Akhirnya jam 6 an saya masuk ke rumah sakit dan dicek lagi. Saat di cek mules memang udah makin intens, tapi bukaan saya masih mentok di bukaan satu. Satu jam berlalu, saya pun dibawa ke ruang melahirkan dan disana akhirnya saya pun di beri induksi. Iya induksi karena bukaan saya baru naik ke bukaan dua.

Part induksi ini, masha allah banget, dan nggak mau-mau lagi deh, mending naik roller coaster aja. Setelah induksi mules saya luar biasa sakitnya nggak kira-kira. Sesakit-sakitnya saya, kalau sakit masih mau makan, tapi denganmu induksi itu tidak berlaku. Makan nggak selera, tidur nggak bisa, karena mules ini datangnya 5 menit sekali tanpa ada jeda.

Tiga puluh menit induksi, obatnya ternyata di stop karena bayi saya stress dan detak jantungnya nggak stabil. Jadi demi keselamatan ibu dan bayi, induksi dihentikan. Kukira mulesnya pun nggak akan hilang, tapi nggak tetep aja mules. Bukaan saya pun cuma naik jadi tiga, dan dicek tiap 2 jam pun sudah gak ada penambahan lagi.

Sampai ketika, saya harus puasa dari jam 10.00 malam. Saya udah ngelengos dalam hati, yah beneran sc ya kayanya. Mama saya pun kelihatan mau nangis, tapi masih tegar nemenin sampai jam 11 malam. Sisanya malam itu saya hanya ditemani suami, dan ada juga mertua yang jenguk dan ikut nunggu sampai subuh.

Saking mulesnya saya udah ngoceh ngaler ngidul (bs sunda : kemana aja) kata suami saya. Bahkan sesekali saya bilang bapak sambil istighfar. Memang ya, melahirkan itu maut terasa sejengkal lebih dekat aja rasanya. Kurang lebih 12 jam bertahan, esok harinya saya harus SC, dan suami dengan berat hati tanda tangan inform concent. Jadi inget masa kuliah, tiap mau ambil data ke responden untuk penelitian saya nyodorin inform concent, and now this is my turn :").

Sebelum ruang operasi, rasanya kok jadi melow juga yaa. Mama saya nangis, suami mukanya sedih banget keliatan nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Sebagai pasien, aku tuh harus tegar, harus setrong :"(. Operasi SC nya nggak lama ternyata, cepet banget menurut perkiraan saya. Masuk jam 10 pagi, jam 11 pagi pun udah selesai ternyata. Dan ya meskipun sebentar, tapi tetep berkesan karena saya sadar kok masih bisa lihat dan dengar suara anak bayi saat lahir. Saking terharunya, saya pun menangis pas baby y di dekatkan dan IMD.

Assalamualaikum baby y, sayangnya ibu :*


IMD beneran, meskipun SC, saya tetap bisa IMD dengan baby y. Masha allah, imd itu momentnya nyaman banget, dan seneng banget aja gitu lihat bayi cari ASI. IMD saya ini nggak lama, sekitar 15-20 menit saja karena saya sudah nggak sanggup nahan mual selama operasi berlangsung.

Selesai operasi saya terpisah dulu dari baby y, karena baby y harus diobservasi dan saya pun harus menyesuaikan diri karena kondisi menggigil pasca operasi.  Setelah kurang lebih 6 jam an, akhirnya baby y pun sudah di bawa ke kamar, dan bobo bareng dengan ibu.  Untuk menyusui pertama kalinya, alhamdulilah baby y nggak ada kesulitan berarti, lancar. Saya pun diberi tahu susternya, bahwa baby y cukup asi, karena pup dan pipisnya sudah mulai sering.

Untuk SC ini saya menginap di rumah sakit 4 hari 3 malam, karena d hari kedua dan ketiga saya sudah belajar duduk dan berjalan. Saya merasakan sendiri bahwa kalau sudah SC itu, bukannya enak yang ada sakitnya luar biasa. Untuk pemulihan totalnya, saya sendiri butuh 3 minggu untuk bisa aktifitas yang ringan, kalau sampai biasa ya butuh 1,5 bulan.

Saya juga  opini sedikit, soal melahirkan SC ini. Mohon kiranya ya, kalau ada yang melahirkannya SC, jangan ditanya kok SC dengan nada bicara yang meremehkan dan nggak menyenangkan. Apalagi sampai tega bilang atau judge pengen enaknya aja dan malas lahiran normal ya.

Pertama itu sangat tidak etis, tidak manusiawi malah. Yang kedua, ibu yang habis melahirkan itu hormonalnya sedang tidak stabil, dan pasti berpengaruh ke emosi dan mentalnya. Please, baby blues itu nyata banget, minimal kalau tidak bisa bantu ya jangan jadi trigger. Lebih baik simpan opini (yang kira-kira menyakitkan) dalam hati.

Fyi aja, yang namanya SC itu kan pembedahan, bedah itu sebetulnya dilukai dengan sengaja. Dilukainya pun nggak sembarangan, berlapis-lapis jaringan kulit sampai akhirnya sampai ke bagian rahim. Jadi kalau masih ada yang shamming soal SC, coba aja deh emang berani melukai tubuh sendiri? *hadeuh*.

Pesan masyarakat aja yah, please keep quiet and respect every mom decission. SC atau normal itu sebenernya hanya ikhtiar kok, jalan dan prosedural medisnya aja yang beda. Baik normal atau SC tetap nggak ada yang bisa menggantikan esensinya bahwa itu seorang ibu. Dimata anak yang penting itu ibunya, mau lahirnya mudah kek sulit kek, anak kita gak peduli itu. Peluk buat semua ibu ya, apapun jalan lahirnya, yang paling penting ibu selamat bayi sehat.

Sekian dulu ya, cerita lahiran saya ini, sebenarnya masih panjang tapi lain kali dilanjut di postingan yang lain. Akhirnya plong juga jiwa raga bisa berani cerita soal lahiran setahun yang lalu :"). Jadi lengkap deh seri cerita kehamilan saya di blog ini *terharu*. Semoga kelak kalau baby y sudah besar dan bisa baca blog ini baby y tahu dan makin sayang sama ibuknya :*.

All right reserved.
Do not copy-paste without allowance 
Or any permission from authors.


Be First to Post Comment !
Post a Comment

Terima kasih banyak sudah mampir dan comment ya :)
Jangan spam dan jangan ada link hidup diantara kita ya, karena bakal aku hapus.